Agrowisata di Sumatera

Agrowisata di Sumatera Selatan

  • Kebun Buah Melon, Prabumulih

     

    0956198Buah-melon-bergelantungan-di-kebun-Pak-Sumidi-di-Kelurahan-Gunung-Ibul-Kecamatan-Prabumuih-Timur-Kota-Prabumulih-Sumsel780x390

Ada yang menarik di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Di Kelurahan Gunung Ibul, Kecamatan Prabumulih Timur, ada kebun buah melon yang ditanam dan ditata secara menarik sehingga membuat orang yang melihatnya tertarik untuk singgah.

Kebun buah melon itu milik Samidi (40 tahun), petani buah asal Solo, Jawa Tengah yang merantau ke Kota Prabumulih.

Kebun melon Samidi sebenarnya tidak terlalu luas hanya seperempat hektar. Namun Samidi menanamnya dengan cara yang benar. Buahnya juga ditata teratur dengan cara digantung dengan tali.

Akibatnya orang yang melihat kebun Samidi pasti singgah dan tertarik untuk membeli buah melonnya yang tergantung rapi dan bersih tidak terkena tanah.

Samidi memulai usaha pertanian buah melon sejak tahun 2010. Awalnya suami dari Merry Satia Dharma ini mendapat pelatihan cara budi daya buah melon langsung ke negara Jepang, dikirim sebuah lembaga pertanian di Indonesia.

Di Jepang, Samidi mempelajari cara dan mengolah tanah, menaman hingga pemupukan serta pemberian air dengan cara yang benar. Supaya tanaman buah melon tumbuh dengan baik dan menghasilkan buah yang besar dan manis.

Hasil dari pelatihan di Jepang itu lalu ia terapkan di Kota Prabumulih. Dengan modal uang Rp 10 juta dan tanah tumpangan, bapak tiga anak ini mulai mengolah tanah dan menanam bibit melon di kebunnya itu. Tanah seperempat hektar itu ia tanami sebanyak 3.000 bibit melon.

Dari tanam hingga bisa dipanen memakan waktu dua bulan. Agar buah yang dipanen tidak kotor dan busuk, Pak Samidi mengantung buah melon itu dengan tali. Ternyata selain buahnya tidak kotor terkena tanah hal itu membuat orang yang melihatnya jadi tertarik untuk singgah.

Sekarang bayangkan, jika satu tanaman melon buahnya mencapai berat 2 kilogram, maka jika dikalikan 3.000 batang, akan didapat angka 6.000 kilogram atau 6 ton buah melon.

Dengan harga jual Rp 10.000 per kilogram maka Samidi bisa mendapat Rp 60 juta dalam dua bulan, sementara modalnya hanya Rp 10 juta. Sungguh angka keuntungan yang cukup besar.

Tanpa sengaja kebun buah melon Samidi tanpa sengaja menjadi tujuan wisata pertanian atau agrowisata kecil-kecilan. Jika memasuki masa panen, ibu-ibu PKK, dharma wanita, pegawai Pemkot Prabumulih, pegawai Pertamina Asset 2 Prabumulih hingga masyarakat biasa hampir setiap hari datang dan membeli buah melon di kebunnya.

Tidak hanya pegawai pemerintahan, banyak juga pedagang buah di pasar Prabumulih yang datang untuk membeli buah melon untuk dijual lagi di pasar. Samidi sendiri membebaskan warga untuk memilih dan memetik sendiri buah melon dari kebunnya. Setelah dipilih, dipetik lalu ditimbang dan dibayar.

Pemilik sempat belajar cara bertanam buah melon di negara Jepang selama tiga bulan. Ilmu dari Jepang itulah yang diterapkan di sini. Pemilik juga memilih konsep pegunjung dapat memilih dan memetik sendiri buah melon yang mereka inginkan. Jadi pengunjung dapat membeli melon sekaligus berwisata.

 

Setelah dipetik buah melon langsung dibelah dan dimakan beramai-ramai dan sebagiannya lagi bisa ditimbang lalu dibeli untuk dibawa pulang ke rumah.

Selama ini usaha pertanian Samidi masih dikelola secara mandiri. Dia berharap ke depan bisa mendapat pembinaan dari pemerintah, khususnya Pemkot Prabumulih.

Agrowisata di Sumatera Utara

  • Kebun Teh Simalungun

    kebun-teh-sidamanik

Pemandangan kebun teh yang menghampar hijau ala Puncak atau Lembang-Jawa Barat, juga ada di Tobasari, kabupaten Simalungun.

Dalam perjalanan menuju area kebun teh ini, kita akan merasakan perjalanan yang nyaman. Sebabnya, kontur lahannya lebih landai dibanding kebun teh Gunung Mas di Puncak-Bogor. Meski demikian, tetap saja pemandangan hijau yang hadir membuat mata teduh.

Sesampainya di sana, langsung saja berkeliling kebun tehnya. Saat penelusuran mulai dilakukan, kita bisa melihat sekelompok ibu-ibu pemetik teh sedang mengambil pucuk daun terbaik secara manual. Sementara dari kejauhan, para lelaki memakai mesin khusus pemetik teh yang lebih modern.

Area wisata ini memiliki luas lahan sekitar 590 hektar, dan berada pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut. Dan sebagai komoditi utamanya adalah daun teh hitam. Dijamin, hembusan hawa sejuk khas pegunungan akan langsung menerpa tubuh kita, dan pikiran pun tenang dibuatnya.

Bahkan, demi menunjang kenyamanan serta untuk menarik pengunjung, sang pengelola yakni PTPN IV, tengah mempersiapkan beberapa paket wisata seperti  tea walk, factory tour, tea morning, hingga beberapa sarana penginapan.

Berbagai fasilitas dan keindahan alam yang ditawarkan Kebun teh Tobasari, tentu bisa menjadi alternatif liburan baru di Sumatera Utara. Nah, bagi Anda yang ingin bertandang ke kebun teh ini, bisa dijangkau dari Pematangsiantar sejauh 28 km dengan waktu perjalanan sekitar 45 menit.

 

Sumber :

  1. http://travel.kompas.com/read/2016/06/04/073600627/Kebun.Buah.Melon.di.Prabumulih.Pengunjung.Dapat.Memilih.dan.Memetik.Sendiri
  2. http://www.jitunews.com/read/6032/sumatera-utara-juga-punya-agrowisata-teh-lho
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s